Saturday, July 20, 2013

Working on the (transport) details

Beberapa hari yang lalu pertama kalinya saya pergi ke kantor menggunakan angkot. Beda banget dengan pas kuliah yang cukup sekali naik angkot dan jalurnya lurus-lurus aja tanpa kemacetan yang berarti, rute saya ke kantor mengharuskan naik 2 kali angkot dengan durasi yang panjang plus macet yang bikin desperate. Lalu jackpotnya, saya ternyata harus lembur yang mana ga tau naik angkot apa kalo malem-malem. Jadilah, malam-malam gelap-gelap jalan kaki dan tanpa adanya trotoar. Udah pengen nangis, gini banget sih nasib orang yang pake angkutan umum T_T.

Kalau tiap hari mesti gitu, saya ga kuat kayanya. Itu seperti hak asasi yang diabaikan sama pihak yang berkewajiban. Kebayang ga sih, Bandung yang katanya lagi emerging di Indonesia, bahkan Asean *ini kata saya aja sih :p*, sistem angkutan umumnya (almost) doomed. Bikin ga produktif dan mau ga mau jadi mendukung makin pesatnya angkutan pribadi (mobil dan motor) sementara infrastruktur transportnya ga tumbuh.  

Yang saya ga ngerti sejak dulu adalah, dalam dunia kajian transportasi umum, sudah superjelasbanget bahwa transportasi umum emang sulit kalau profit oriented. Kasarnya dia cuma mau beroperasi kalau mendatangkan keuntungan, kalau engga ya mending ngerjain kerjaan lain yang lebih menguntungkan. Dengan kata lain, transportasi umum kalau dikelola swasta tentu akan lebih mementingkan profit dibanding memberikan pelayanan. Itu udah jelas banget banget banget. Kalo pemerintah ga ngerti juga dengan hal itu, mesti dipertanyakan selama ini kemana ajaaa, mahasiswa TPB juga ngerti.

Friday, July 12, 2013

Ramadhan Semangat Berkarya

Setelah hampir setengah tahun berhenti nulis di sini, mari mulai lagi :D

Ramadhan tahun ini, tahun 1434 kan yah.. yang mana buat saya adalah Ramadhan ke 26. Saya lahir tepat tanggal 1 Ramadhan beberapa saat sebelum azan solat dhuhur. Mungkin karena itu kakek saya memilih nama Aulia yang salah satu maknanya adalah pemimpin *umumnya buat cowok sih, saya prefer makna 'teman setia' aja deh saya kan setia dan anti-php tapi gampang di-php-in :p*.

Ramadhan kali ini baru hari ke-3, sedikit berbeda daripada sebelum-sebelumnya. Biasanya saya masih berstatus mahasiswa atau freelance worker (kalo bukan illegal :p), kali ini ada jam kerja 8-16.30 (cuma dipotong setengah jam selama Ramadhan, irit banget ya ini kantor hehe). Sebenernya setelah lulus S2 saya ga berencana langsung kerja kantoran, tadinya masih mau diem di lab di kampus yang tanpa jam kerja dan bisa suka-suka. Tapi lama-lama ga betah karena bosen suka-suka *naon coba*, yah udah waktunya move on aja sih, cari tempat belajar yang baru *never ending learning kan yah ceritanya :p*.

Lalu saya menjalankan azas venture all, see what fate brings! Saya apply ke beberapa perusahaan, mau yang nyambung dan yang engga sama disiplin ilmu saya, tetep aja saya apply. Mungkin perusahaan yang ga nyambung trus HRD-nya mikir "Ini orang ngaco banget apply ke sini!" Haha biarin biar seru lah yaa.. Lalu seiring dengan berjalannya waktu, nyangkutlah 2 perusahaan yang manggil saya buat wawancara.

Sunday, February 3, 2013

Keluarga vs Doktor

Menjelang sidang tesis (meskipun belum tahu tanggal berapa), teringat obrolan bersama salah satu dosen pembimbing tentang perempuan dan kuliah.

Waktu itu kami sedang mengobrol tentang kuliah doktornya dulu di Jepang. Di sana beliau melalui 2 tahun pertama yang sangat berat di bidang akademis dan satu tahun terakhir lebih banyak diisi dengan hal di luar akademis. Selama itu, istri beliau ikut tinggal di sana sambil mengurus 2 anaknya. Istri beliau menjadi satu-satunya orang Indonesia di kota tempat beliau kuliah (pada waktu itu) yang bisa mendapat SIM mobil.

Fyi, istri beliau adalah lulusan master dan sarjana di kampus saya. Tebak profesi istrinya tersebut sebagai apa sekarang? Ibu rumah tangga. Sampai saat ini, beliau dan istrinya selalu tampak casual, kompak, dan menyenangkan. Mereka seperti saling mengisi, tidak romantis mungkin, tapi menyenangkan. Bapak dosen pembimbing ini tampak selalu live his life to the fullest.

Di akhir pembicaraan, beliau sedikit memberi pendapat pada saya dan seorang teman yang juga perempuan, "Coba pikirkan lagi, mana yang lebih penting buat perempuan, keluarga atau lanjut kuliah doktor?"

Saya masih belum yakin korelasinya di mana, hanya saja cerita beliau sedikit banyak mengingatkan saya pada cerita Habibie-Ainun (kecuali pada bagian romantismenya yang saya ga tau) yang secara tersirat menyatakan bahwa "di balik laki-laki yang hebat pasti ada perempuan hebat yang mendampinginya". Mungkin sedikit lebih baik jika mengganti cita-cita "mendapat gelar doktor sebelum usia 30" menjadi "... sebelum usia 30" (silakan isi sendiri :p).