Menjelang sidang tesis (meskipun belum tahu tanggal berapa), teringat obrolan bersama salah satu dosen pembimbing tentang perempuan dan kuliah.
Waktu itu kami sedang mengobrol tentang kuliah doktornya dulu di Jepang. Di sana beliau melalui 2 tahun pertama yang sangat berat di bidang akademis dan satu tahun terakhir lebih banyak diisi dengan hal di luar akademis. Selama itu, istri beliau ikut tinggal di sana sambil mengurus 2 anaknya. Istri beliau menjadi satu-satunya orang Indonesia di kota tempat beliau kuliah (pada waktu itu) yang bisa mendapat SIM mobil.
Fyi, istri beliau adalah lulusan master dan sarjana di kampus saya. Tebak profesi istrinya tersebut sebagai apa sekarang? Ibu rumah tangga. Sampai saat ini, beliau dan istrinya selalu tampak casual, kompak, dan menyenangkan. Mereka seperti saling mengisi, tidak romantis mungkin, tapi menyenangkan. Bapak dosen pembimbing ini tampak selalu live his life to the fullest.
Di akhir pembicaraan, beliau sedikit memberi pendapat pada saya dan seorang teman yang juga perempuan, "Coba pikirkan lagi, mana yang lebih penting buat perempuan, keluarga atau lanjut kuliah doktor?"
Saya masih belum yakin korelasinya di mana, hanya saja cerita beliau sedikit banyak mengingatkan saya pada cerita Habibie-Ainun (kecuali pada bagian romantismenya yang saya ga tau) yang secara tersirat menyatakan bahwa "di balik laki-laki yang hebat pasti ada perempuan hebat yang mendampinginya". Mungkin sedikit lebih baik jika mengganti cita-cita "mendapat gelar doktor sebelum usia 30" menjadi "... sebelum usia 30" (silakan isi sendiri :p).