Banyak sekali orang yang bilang kalau mau membangun sistem transportasi yang baik di suatu kota, harus menjadikan transportasi umum menjadi sarana yang atraktif bagi masyarakat. Entah itu dari sisi kenyamanan, keamanan, keselamatan, maupun biaya transportasi itu sendiri. Dengan begitu, masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi akan lebih memilih menggunakan moda transportasi umum.
Secara teori dan logika, itu benar. Namun bagaimana kenyataannya?
Lama-kelamaan saya jadi makin yakin kalau transportasi itu bukan hal yang boleh murni menggunakan logika dalam segala sisinya. Siapa yang setuju kalau dengan kenaikan harga bahan bakar premium bisa memicu perpindahan moda besar-besaran dari mobil pribadi ke sepeda motor? Secara logika tentu saja iya. Tetapi tidak, buat pengguna mobil, terutama di kota-kota besar, perubahan harga BBM tidak mampu membuat mereka memilih sepeda motor.
Lalu di mana peran transportasi umum?
Salah satu responden wawancara tesis saya ketika ditanya perihal respon yang akan beliau lakukan jika terjadi kenaikan harga BBM dan pengaruhnya terhadap perilaku penggunaan mobilnya menjawab seperti ini:
Saya tetap menggunakan kendaraan pribadi dengan mengurangi pengeluaran saya untuk konsumsi yang lain seperti makan, entertainment, dll. Jika kendaraan roda 2 tetap menggunakan BBM premium, saya akan beralih ke roda 2. Kecuali jika ada sistem transportasi massal di bandung yang TEPAT WAKTU dan NYAMAN, saya akan beralih ke transportasi massal. Mungkin saya lebih memilih naik sepeda jika dibandingkan harus naik angkot.
Responden tersebut menempatkan transportasi umum sebagai alternatif terakhir dan mensyaratkan ketepatan waktu juga kenyamanan. Jadi sebenarnya biaya bukan masalah, setidaknya untuk responden ini kalau tidak berlaku untuk semua. Parameter yang bersifat kualitatif lebih dipentingkan oleh masyarakat, khususnya kelompok masyarakat yang selama ini menggunakan mobil.
Lalu pertanyaan selanjutnya siapa yang bertanggung jawab mempromosikan transportasi umum?
No comments:
Post a Comment